SMS

by - Desember 09, 2013




Hari ini aku benar-benar merasa pusing. Entah karena telalu lama mencium bau obat atau karena masalah lain. Aku tidak suka hari ini. Harusnya, aku merasa senang karena ini adalah hari terakhir kakekku di rumah sakit, setelah sekitar seminggu di opname karena darah tingginya kambuh. Untuk itulah seharian ini aku membantu Ibu mengemasi barang-barang kakek. Huft, padahal aku benci sekali bau obat, tapi apa boleh buat? Apa salahnya mengesampingkan kelemahan kita demi orang lain?
            “Kamu pusing?” tanya Ibu padaku, setelah kami tiba di rumah. “Kamu kelihatan pucat, Maya”
            “Aku gak papa kok, Bu. Aku istirahat ke kamar dulu ya.” aku langsung lari ke kamar.
            Kuhempaskan tubuh di kasurku tercinta. Namun  entah kenapa rasanya jadi keras tak empuk seperti biasa. Apa gara-gara obat? Huh,obat memang menyebalkan. Aku menengok jam digital di handphone, pukul 15.08. Tiba-tiba terngiang kembali suara Nina yang menelponku tadi pagi.
            “Maya, emangnya Gilang udah punya pacar ya?” tanya Nina dengan suaranya yang khas.
            “Oh ya?” suaraku terdengar kaku.
            “Aku baca tweetnya barusan. Kata-katanya mengindikasikan kalau dia baru jadian.” jelas Nina.
            Aku termangu tak mampu berkata apa-apa. Lidahku kelu seketika. Tanpa sadar, aku langsung mematikan handphone tanpa memperdulikan suara Nina yang masih teriak-teriak.
            Aku tersadar dari lamunan. Hemb, cintaku bertepuk sebelah tangan? Cintaku pada seorang cowok bertubuh atletis bernama Gilang Ferdian Bagaskara. Oh Tuhan, apakah ini yang namanya cinta? Sungguh cinta pertama yang mengenaskan. Aku bangkit dari posisi tidurku. Pening rasanya kepala ini. Tapi, tunggu dulu! Kenapa kepalaku pusing? Gara-gara Gilang atau obat? Ya Tuhan, semoga saja bukan karena cinta konyol yang membuatku hampir gila. Semoga.
***
            Senin. Hari yang tidak disukai sebagian orang . Ya, aku juga termasuk orang itu. Bukan apa- apa, aku tidak suka hari Senin karena jam pelajaran terakhirnya adalah Fisika. Meskipun aku murid XI IPA 3, bukan berarti aku menyukai Fisika. Apalagi disaat siang hari yang panas otak dipaksa memikirkan Hukum Newton, bilangan avogadro dan tetek bengek yang lain.  Tentu, pendapat seperti ini hanya dimiliki oleh murid berotak lumayan saja seperti aku. Lumayan encer dan lumayan lola atau singkatnya berotak sedang-sedang saja.
            “Pagi Maya.” terdengar celoteh riang menghampiri mejaku.
            Tanpa aku harus mendongakkan kepalaku yang memang sedang kusembunyikan, aku sudah familiar dengan suara itu. Maka dari itu lah, aku tidak tertarik menyapa orang ini kembali.
            “Maya!” hardik si pemilik suara. Kali ini bukan cuma teguran dengan suara, tapi sebuah buku mendarat di kepalaku.
            ‘Auw.”  Refleks aku mengaduh dan terpaksa mengangkat kepala untuk minta pertanggung jawaban.
            “Hehe. Maaf, sakit ya?” Nina cengengesan seolah tanpa dosa.
            “Gak kok. Enak lho digebug pake buku. Mau coba?” aku siap membalas Nina.
            “Ampun! Ampun!” Nina mengangkat tangan tanda menyerah. “Abis ngeselin sih,diajak ngomong malah molor.” Nina menaruh tasnya di meja dan duduk manis di sampingku.
            “Pusing.” Jawabku singkat lalu kembali meletakkan kepala di meja. Benar-benar tidak bersemangat.
            “Hemb, gara-gara Gilang ya?” suara Nina terlalu membahana dan membuatku refleks membungkam mulut embernya. Gila! Bagaimana kalau seisi kelas tahu kalau Maya Irna Putri Irawan, gadis lumayan jangkung dengan rambut sebahu yang selalu diikat ekor kuda naksir sama teman sekelasnya yang populer seantero sekolah? Apa kata dunia? Meskipun sekelas, Maya dan Gilang bukanlah selevel.
            “Hehehe...maaf....maaf.” kebiasaan buruk Nina yang sulit dihilangkan. Yaitu tak pernah merasa berdosa ketika sudah membuat aku sengsara. “Ga ada yang denger kok.” Nina kembali menampakkan wajah innocentnya.
***
            “Maya.”
            Langkahku terhenti ketika mendengar suara di balik punggungku. Hampir saja badanku tak bisa digerakkan, sulit sekali untuk berbalik. Aku bisa memaklumi kondisi tubuhku yang tiba-tiba jadi robot ini. Ya. Tentu saja karena pemilik suara itu, yang memanggil namaku dengan merdu.
            “Maya.” suara itu kembali terdengar. Gilang?
            Setelah melalui usaha keras, akhirnya aku berhasil membalikkan tubuhku dan berhadapan dengan si pemilik suara. Keringat dingin bercucuran, jantungku berdegup tak beraturan dan yang paling parah adalah senyum konyolku. Aku mencoba tersenyum manis, tapi seratus persen aku yakin yang tersungging dari bibirku sama sekali tidak manis.
            “Ya?” kataku lirih sekali. Mungkin lalat lewatpun tak mendengar suaraku.
            “Bukumu ketinggalan.”
            Aku menerima buku itu dengan tangan gemetaran. Belum sempat kuucapkan terimakasih, Gilang sudah lebih dulu angkat kaki dari hadapanku. Aku memang hanya angin lalu yang tak berarti baginya. Ya, memangnya aku ini siapa? Aku hanya teman sekelasnya. Hanya sekedar teman sekelasnya, bukan teman dekatnya.
            Setelah sampai di rumah, buru-buru aku mematut diri di depan cermin. Apa aku jelek? Atau menyebalkan? Hatiku berteriak penasaran. Kenapa Gilang cuek  banget sama aku? Nglirikpun rasanya ga pernah. Aku bermonolog.
***
nina,ak tuh naksir gilang udh lama. susah nglupainnya.
tp, knp dy cuek bgt y? liat mukaq ja kyknya g sudi. L
            Salah satu kebiasaanku setelah mengerjakan PR, yaitu curhat lewat SMS. Tak peduli Nina sedang sibuk, tak peduli dia gak punya pulsa untuk membalas SMSku, yang penting  aku merasa lega dan Nina tak keberatan menjadi teman curhat SMSku.
            Aku sabar menunggu balasan dari Nina. Sepuluh menit berlalu, belum juga ada balasan. Dua puluh menit berlalu, SMS Nina belum juga terlihat. Tepat dimenit ketiga puluh aku menanti, HPku bergetar tanda SMS masuk. Tanpa membaca nama pengirimnya aku langsung membuka SMS.
oh y? ko’ baru blg skrng?
ak cuek?masa sih?
            Lho? Kok balasan Nina kayak gitu sih? Aku bergumam. Cepat-cepat aku cek pengirimnya dan ya Tuhan. Nama Gilang muncul di inboxku? Apa artinya aku? Secepat kilat aku memeriksa sentboxnya, dan ternyata benar. Aku salah kirim! Oh, bodohnya! Aku mengirimkannya ke Gilang bukan Nina.
            Mukaku merah padam karena malu. Apa yang harus aku lakukan? Ingin kucopot wajah ini dan menggantinya dengan yang baru. Besok aku tak ingin masuk sekolah. Aku ingin pindah sekolah. Oh tidak. Bagaimana dengan bunuh diri? Mungkin itu lebih baik? Argh! Gak.  Pikiranku kacau balau. Tengsin kelas dewa. Aku segera menonaktifkan handphone. Untuk sementara waktu, begini lebih baik.
***
            Esok harinya, aku duduk termenung di kelas. Kepala aku posisikan untuk tetap menunduk, karena aku takut melihat Gilang. Jelas, aku amat sangat begitu malu sekali gara-gara SMS menyebalkan itu. Aku berusaha mengawasi Gilang dari sudut mataku. Dia terlihat biasa saja. Syukurlah.
            “Kenapa diem aja?” Nina menyeletuk. “Sariawan?”
            Dahiku mengkerut. “Sakit gigi.” Jawabku asal.
            “Hah? Nanti ke tempat kakakku ya, diobati.” Nina terlihat khawatir. “Gratis kok.” Kakaknya memang seorang dokter gigi.
            “Ga mau. Aku ga kenapa-kenapa kok.”
            “Serius?” tanya Nina penuh selidik. Aku mengangguk.
            Nina tidak tahu kalau kemarin, SMSku nyasar ke Gilang. Tapi, biarlah. Toh kalau dia tahu tidak ada gunanya. Tidak akan merubah keadaan.  Paling-paling dia hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
            Malam harinya, aku kaget luar biasa. Nama Gilang muncul di inboxku lagi. Tapi, entah mengapa aku tidak senang. Justru aku takut kalau Gilang marah padaku atau malah akan memaki diriku. Wajar saja, kalau hal itu terjadi karena dia dan aku sangatlah berbeda. Hati- hati aku membaca SMSnya.
smg km g kpngen jd pcarku y?
#GR
            Seyumku mengembang. Lucu juga dia. Sebenarnya pengen banget. Kataku dalam hati.  Huft, aku salah menilainya. Aku pikir dia akan mengirimkan SMS ancaman agar aku berhenti melakukan kegilaan ini, karena menyukai Gilang yang populer adalah hal buruk bagi diriku yang berasal dari kasta terbawah. Aku membalas SMSnya dengan hati-hati.
GR. kta org cinta g hrs mmliki kan?
            Tiga menit kemudian muncul balasan dari Gilang. Betapa mudahnya ini? Gilang mau membalas SMS dari gadis kasta bawah seperti aku? It’s great!
haha iya.
ehm, ak blm mw pcran dlu. sma km atau cwe lain.J
            Ada sedikit kekecewaan dalam hatiku. Kecewa karena itu artinya aku gagal mendapatkan cintanya. Tetapi, entah mengapa justru perasaan lega dan heran yang lebih menguasai emosiku. Bukannya dia udah punya pacar? Kok tiba-tiba bilang ga mau pacaran?
lhoh? tp di tweet???
            Tanyaku penasaran. Aku menunggu balasan SMS dari Gilang dengan harap-harap cemas. Tapi, balasan yang kutunggu tak kunjung datang. Hingga aku tertidur SMSnya belum juga muncul.
***
            Bel istirahat berbunyi. Saat yang ditunggu-tunggu. Terutama untuk Nina. Dia mengaku belum menyantap secuil makananpun dari tadi pagi, sebab itulah dia merasa perlu menarik tanganku dengan paksa agar mau menemaninya ke kantin. Tak seperti biasa, waktu istirahat kali ini kugunakan dengan makan di kantin. Selain karena paksaan dari Nina, aku juga merasa lapar. Biasanya, aku lebih memilih perpustakaan sebagai tempat untuk menghabiskan waktu istirahat.
            “Pelan-pelan Nin.” kataku mengingatkan Nina yang sedang melahap mie ayam dengan membabi buta.
            Nina cuma nyengir lalu melanjutkan aktifitas makan siangnya yang mengerikan. Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Nina. Beginilah Nina, susah dinasehati. Tapi, dia sahabat terbaikku. Aku menyukai semua tentangnya meskipun terkadang membuatku manyun karena kesal.
            “Aku boleh gabung?”
            Nina tersedak gara-gara melihat cowok yang minta duduk bersama kami. Segera aku memberinya minuman dan menepuk-nepuk tengkuknya. Tips ini kudapatkan dari nenek. Entah benar secara medis atau tidak aku tidak terlalu peduli.
            Sorry, Nin.” cowok itu sudah duduk di hadapan kami.
            Aku tidak berani melihat cowok itu. Tentu saja karena dia Gilang. Aku sengaja membuang muka dan lebih memilih menatap mangkok mie ayam yang masih penuh.
            “Ya. Gak papa kok. Cuma kaget  tadi.” Nina berhenti untuk meneguk air putih. “ Tumben mau gabung sama kita? Hehehe.” Nina cengengesan. Aku menatapnya aneh, berharap dia berhenti tertawa karena menurutku tawanya benar-benar tidak manis. Terlalu dipaksakan.
            “Ya bolehkan sekali-kali ngobrol sama kalian?” Gilang mengaduk makanan di mangkoknya. “Dari tadi kok temenmu diem terus Nin?” Gilang menoleh ke arahku.
            “Ga tahu nih. Agak pemalu si.” Lagi-lagi Nina cengengesan.
            “Apaan si Nin.” sanggahku tak terima. “Lho emang aku harus ngomong apa ke kamu?” aku memberanikan diri  bicara pada Gilang.
            Gilang mengangkat bahu. “Sekedar nyapa juga udah buat aku seneng.” Dia tersenyum.     “Oh iya, tweetku  yang kemaren itu yang nulis adekku. Dia emang suka iseng.” Gilang berdiri dan meninggalkan mangkok mienya yang masih penuh. “Aku duluan ya.” Pamitnya sopan dan tersenyum ke arahku.
            “Gilang, tunggu!” entah energi darimana yang kudapat, sehingga bibirku lancar meneriakkan nama Gilang tanpa harus merasa grogi.
            Gilang menoleh dan aku merasa lidahku kelu lagi. Ah, penyakit konyolku kambuh. Keringat dingin mulai bercucuran, jantung berdegup tiga kali lebih cepat dan tubuhku terasa panas. Ayolah, kumohon bicaralah padanya. Jangan bertindak bodoh seperti ini. Hatiku berteriak-teriak.
            “Kenapa?” Gilang mungkin sudah menyadari reaksi anehku.
            “Aku..ehm.” tarik nafas. “Aku..”
            Gilang tersenyum. “Santai saja. Kamu mau ngomong apa?”
            “Ehm, terimakasih.” hembuskan nafas. “Maksudku, terimakasih karena telah mengembalikan bukuku waktu itu.” tarik nafas lagi. “Aku belum sempat berterimakasih padamu.”
            “Oh, ya. Maaf, waktu itu aku sedang terburu-buru.” Gilang kembali tersenyum. “Aku pergi dulu ya.”
            Aku mengangguk dan oh tidak senyum konyolku muncul lagi. Hampir saja aku memukulkan kepalaku ke tembok, tapi Nina buru-buru mencegahku.
            “Maya?” kurasa Nina merasa ada hal yang kusembunyikan darinya tentang Gilang. Aku hanya membalas raut mukanya yang keheranan dengan mengangkat bahu. Lagipula, aku harus melakukan apa? Kurasa belum saatnya untuk menceritakannya pada Nina.
            “Jangan menatapku seperti itu.” Aku memprotes cara Nina melihatku. Jujur saja, aku risih ditatap aneh olehnya.
            “Huh.” Nina mendengus kesal.
***
            Betapa hati ini bahagia. Pertama, karena aku mendapatkan nilai seratus di ulangan Biologi tadi pagi. Kedua, Nina mentraktirku es krim tadi siang. Ketiga, Gilang bilang dia belum punya pacar. Untuk yang ketiga itu berhasil membuatku senyum-senyum seperti orang gila. Kuhempaskan tubuh di kasur. Empuk sekali rasanya. Mungkin karena suasana hatiku cerah jadi kasurku ikut-ikutan merasakan kegembiraan.
            Handphoneku bergetar. Sebenarnya sedikit mengganggu. Tapi, ya sudahlah barangkali SMS penting.
utk pcar gak. tp, bgmn dg teman?
            Senyumku melebar. Tak apalah aku tak bisa mendapatkan Gilang sebagai kekasih. Tapi, untuk menjadi temannya aku juga sangat senang. Selain itu, aku merasa lega karena sudah mengungkapkan perasaanku terhadapnya. Yah, walaupun tadinya hanya ketidak sengajaan tapi toh membuat Gilang tahu perasaan yang sudah aku pendam selama ini.
deal.
            Aku menatap langit-langit kamarku. Semua begitu terlihat indah dan enak dipandang. Gilang Ferdian Bagaskara dan Maya Irna Putri Irawan mulai detik ini berteman. Aku tertawa senang. Terimakasih Tuhan. Terimakasih Gilang.

You May Also Like

0 komentar